Pages

Sabtu, 30 April 2011

Laporan Ekperimen II (Fisika UNIKAN Malang) Massa Jenis Zat Cair, Atwood, Titik Berat Benda

PERCOBAAN MASSA JENIS ZAT CAIR

A. TUJUAN

1. Untuk mengetahui massa jenis zat cair
2. Untuk mengetahui berbagai cara menentukan massa jenis zat cair

B. DASAR TEORI
Massa jenis merupakan bagian sifat penting dari zat. Massa Janis (ρ) adalah perbandingan antara massa zat dengan volum zat tersebut. Massa jenis biasanya dinyatakan dengan huruf ρ (rho) yang berasal dari bahasa Yunani.

ρ = m/V

Ket.: m = massa (Kg)
V = volume (m3)
ρ = massa jenis (Kg/m3)

Hukum utama hidrostatistika
“Zat cair yang sejenis dan terletak pada satu bidang datar akan memiliki tekanan yang sama”.





ha hs






P1 = P2
ρa . g . ha = ρs . g . hs


C. ALAT DAN BAHAN
1. Pipa U
2. Air
3. Zat cair (spiritus)
4. Mistar
5. Gelas ukur
6. Neraca


D. LANGKAH PERCOBAAN
a. Metode 1 (menggunakan pipa U)
1. Menyiapkan pipa U, lalu tuangkan air secukupnya, amati ketinggian air di masing-masing kaki pipa
2. Menuangkan spiritus secukupnya pada salah satu kaki pipa U
3. Mengamati ketinggian air dan spiritus pada masing-masing kaki pipa U, membandingkan apakah ketinggiannya sama? Mengapa demikian?
4. Mengukur ketinggian spiritus, dan mengukur ketinggian air dari pelurus spiritus
5. Mengulangi langkah 1-4 hingga 3 kali
6. Mencatat hasil pengamatan ke dalam table

b. Metode 2 (menggunakan neraca)
1. Menyiapkan neraca, lalu mengkalibrasikan neraca tersebut
2. Menimbang botol kosong dengan menggunakan neraca
3. Memasukkan air ke dalam botol, kemudian menimbangnya
4. Mengulangi langkah 1- 3 dengan volum yang berbeda
5. Mengulangi untuk zat cair yang lain
6. Mencatat hasil pengamatan ke dalam tabel

E. TABEL PENGAMATAN
1. Metode 1

NO H1 (air) H2 (spiritus) P1 P2 Massa jenis zat cair (spiritus)
1 4.2 cm 5 cm 4.2 4.2 0.84 gr/cm3

2 6.1 cm 7.6 cm 6.1 6.08 0.80 gr/cm3

3 5.0 cm 5.9 cm 5.0 4.95 0.84 gr/cm3



2. Metode 2
No. Cairan Massa Volume Massa Jenis
1.
Air 22 gr 20 ml 1.1 gr/ml
31.5 gr 30 ml 1.05 gr/ml
41.5 gr 40 ml 1.03 gr/ml
2.
Spiritus 18.9 gr 20 ml 0.945 gr/ml
26.9 gr 30 ml 0.89 gr/ml
35.6 gr 40 ml 0.89 gr/ml



F. PEMBAHASAN
1. Metode 1
a. Pertanyaan
1. Hitunglah P1 dan P2
2. Hitunglah massa jenis zat cair
3. Berikan contoh aplikasi zat cair dalam keseharian beserta penjelasannya

b. Jawaban
1. Menghitung P1 dan P2


P1 = P2
ρa . g . ha = ρs . g . hs
ρa . ha = ρs . hs
1 . 4.2 = 0.84 . 5.0
4.2 = 4.2

P1 = P2
ρa . g . ha = ρs . g . hs
ρa . ha = ρs . hs
1 . 6.1 = 0.80 . 7.6
6.1 = 6.08

P1 = P2
ρa . g . ha = ρs . g . hs
ρa . ha = ρs . hs
1 . 4.2 = 0.84 . 5.0
4.2 = 4.2

P1 = P2
ρa . g . ha = ρs . g . hs
ρa . ha = ρs . hs
1 . 4.2 = ρs . 5
4.2 = ρs . 5
ρs = 0.84 gr/cm3

P1 = P2
ρa . g . ha = ρs . g . hs
ρa . ha = ρs . hs
1 . 6.1 = ρs . 7.6
6.2 = ρs . 7.6
ρs = 0.80 gr/cm3
P1 = P2
ρa . g . ha = ρs . g . hs
ρa . ha = ρs . hs
1 . 5.0 = ρs . 5.9
5.0 = ρs . 5.9
ρs = 0.84 gr/cm3



2. Contoh aplikasi zat cair dalam keseharian beserta penjelasannya
Dapat digunakan para tukang bangunan untuk mengukur tinggi bangunan supaya bangunan tersebut tidak miring.


2. Metode 2

ρair = m/v
ρair = 22 gr / 20 ml
= 1.1 gr/ml

ρair = m/v
ρair = 31.5 gr / 30 ml
= 1.05 gr/ml

ρair = m/v
ρair = 41.5 gr / 40 ml
= 1.03 gr/ml

ρspiritus = m/v
ρspiritus = 18.9 gr / 20 ml
= 0.945 gr/ml

ρspiritus = m/v
ρspiritus = 26.9 gr / 30 ml
= 0.89 gr/ml

ρspiritus = m/v
ρspiritus = 35.6 gr / 40 ml
= 0.89 gr/ml


G. KESIMPULAN
setelah dilakukan percobaan dapat disimpulkan bahwa. Massa Janis (ρ) adalah perbandingan antara massa zat dengan volum zat tersebut. Untuk menentukan massa jenis suatu zat cair dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya dengan menggunakan pipa U dan menggunakan neraca.





PERCOBAAN ATWOOD




A. TUJUAN
1. Untuk mengetahui percepatan benda jatuh
2. Untuk mengetahui percepatan gravitasi bumi

B. DASAR TEORI
a. Gerak Lurus Beratran (GLB)
Gerak lurus beraturan (GLB) adalah gerak suatu benda dengan kecepatan tetap. Kecepatan tetap adalah sebuah benda menempuh jarak yang sama untuk selang waktu yang sama, sehingga perpindahan da[pat diganti dengan jarak dan kecepatan tetap dapat diganti dengan kelajuan tetap. Maka gerak lurus beraturan dapat juga didefinisikan sebagai gerak suatu benda pada lintasan lurus dengan kecepatan tetap.
(v) kecepatan (s) (cm)






0 t (waktu) 0 t (s)
(a) (b)

Keterangan:
(a) Grafik v – t berbentuk garis lurus horizontal yang sejajar sumbu waktu
(b) Grafik s – t kecepatan selalu tetap.
Berdasarkan grafik (a) maka untuk mengetahui jarak yang ditempuh benda adalah sama dengan luas bidang yang diarsir. Secara matematis dapat ditulis :
s = v.t
s = luas persegi panjang
s = jarak yang ditempuh (m)
v = kecepatan (m/s)
t = waktu (s)
jika benda bergerak pada kedudukan xo dan berakhir pada kedudukan x pada waktu to dan berakhir pada waktu t, maka :
v = ∆x / ∆t atau ∆x = v. t
jika to = 0 maka x – xo = v. t atau x = xo + v.t
keterangan:
x =kedudukan akhir (m)
xo = kedudukan awal (m)
v = kecepatan (m/s)
t = waktu (s)


b. Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB)
Gerak lurus berubah beraturan dapat didefinisikan sebagai gerak suatu benfda pada lintasan garis lurus dengan percepatan tetap. Percepatan tetap adalah besar maupun arahnya teta, serta mengalami perubahan kecepatan secara teratur.secara matematis dapat ditulis:
a = ∆v/∆t
keterangan:
a = percepatan (m/s2)
∆v = v – vo = perubahan kecepatan (m/s)
∆t = t – to = selang waktu (s)
Persamaan – persamaan pada GLBB
1. v = vo + at
2. s = vo t +1/2 at2
3. v2 = vo2 + 2as
keterangan:
v = kecepatan sesaat t
vo = kecepatan awal
a = percepatan
t = waktu
s = jarak

• jika a positif maka GLBB dipercepat
• jika a negative maka GLBB diperlambat
• pada gerak jatuh bebas a = g dan vo = 0
• pada gerak dilempar vertikal ke atas a = g

C. ALAT DAN BAHAN

1. Beban 50 gr, 20 gr, 10 gr
2. Benang
3. Katrol
4. Paku
5. Pencatat waktu / stopwatch

D. LANGKAH PERCOBAAN
1. Menyiapkan alat seperti gambar dengan beban m1 = m2 = 50 gr, dan mengamati posisi benda dalam keadaan seimbang
2. Menambahkan 20 gr pada m2, lalu menarik m1 hingga menyentuh tanah
3. Mengukur ketinggian m2 dari tanah
4. Melepaskan m1 dan membiarkan m2 jatuh menyentuh tanah serta mencatat waktu untuk menyentuh tanah
5. Mengulangi langah 1-4 untuk tambahan beban yang berbeda-beda (3x)
6. Mencatat hasil pengamatan ke dalam table pengamatan






E. TABEL PENGAMATAN
m1 (gram) m2 (gram) M tambahan Waktu jatuh h (cm) a (m/s2) g (m/s2)
50 50 20 01.44 99 0.47 2.93
50 50 30 01.02 106 0.01 4.39
50 50 40 01.02 102 0.98 3.5
100 100 20 02.42 106 0.18 2
100 100 30 02.75 110 0.14 1.07
100 100 50 01.29 108 0.64 3.2

F. PEMBAHASAN
a. Pertanyaan
1. Hitunglah besar percepatan
2. Hitunglah besarnya g
3. Bagaimana kesimpulan saudara
b. Jawaban
1. Menghitung percepatan
a1 = h/t2
a1 = 0.99 m / (1.44 s)2
= 0.99 m / 2.07 s2
= 0.47 m/s2

a2 = h/t2
a2 = 1.06 m / (1.02 s)2
= 1.06 m / 1.04 s2
= 1.01 m/s2

a3 = h/t2
a3 = 1.02 m / (1.02 s)2
= 1.02 m / 1.04 s2
= 0.98 m/s2

a4 = h/t2
a4 = 1.06 m / (2.42 s)2
= 1.06 m / 5.85 s2
= 0.18 m/s2

a5 = h/t2
a5 = 1.10 m / (2.75 s)2
= 0.99 m / 7.56 s2
= 0.14 m/s2

a6 = h/t2
a6 = 1.08 m / (1.29 s)2
= 1.08 m / 1.67 s2
= 0.64 m/s2

2. Menghitung besarnya g

a1 = (m2 – m1) g / m1 + m2
0.47 = (70 – 50) g / 50 + 70
0.47 = 20 g / 120
g = 0.47 / 0.16
g = 2.93 m/s2

a2 = (m2 – m1) g / m1 + m2
1.01 = (80 – 50) g / 50 + 80
1.01 = 30 g / 130
g = 1.01 / 0.23
g = 4.39 m/s2

a3 = (m2 – m1) g / m1 + m2
0.98 = (90 – 50) g / 50 + 90
0.98 = 40 g / 140
g = 0.98 / 0.28
g = 3.5 m/s2

a4 = (m2 – m1) g / m1 + m2
0.18 = (120 – 100) g / 100 + 120
0.18 = 20 g / 220
g = 0.18 / 0.09
g = 2 m/s2

a5 = (m2 – m1) g / m1 + m2
014 = (130 – 100) g / 100 + 130
0.14 = 30 g / 230
g = 0.14 / 0.13
g = 1.07 m/s2

a6 = (m2 – m1) g / m1 + m2
0.64 = (150 – 100) g / 100 + 150
0.64 = 50 g / 250
g = 0.64 / 0.2
g = 3.2 m/s2




G. KESIMPULAN
setelah dilakukan percobaan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi ketinggiannya semakin banyak waktu yang diperlukan benda yang bermassa m untuk mencapai lantai, hal ini karena dipengaruhi oleh gravitasi dan percepatan.




PERCOBAAN TITIK BERAT BENDA


A. TUJUAN
1. Untuk mengetahui titik berat benda yang bentuknya teratur
2. Untuk mengetahui titik berat benda yang bentuknya tidak teratur

B. DASAR TEORI
Pusat Massa Dan Titik Berat
Pusat massa dan titik berat suatu benda memiliki pengertian yang sama, yaitu suatu titik tempat berpusatnya massa/berat dari benda tersebut. Perbedaannya adalah letak pusat massa suatu benda tidak dipengaruhi oleh medan gravitasi, sehingga letaknya tidak selalu berhimpit dengan letak titik beratnya.
1. Pusat Massa
Koordinat pusat massa dari benda-benda diskrit, dengan massa masing-masing M1, M2,....... , Mi ; yang terletak pada koordinat (x1,y1), (x2,y2),........, (xi,yi) adalah:
X = ( Mi . Xi)/(Mi)
Y = ( Mi . Yi)/(Mi)

2. Titik Berat (X,Y)
Koordinat titik berat suatu sistem benda dengan berat masing-masing W1, W2, ........, Wi ; yang terletak pada koordinat (x1,y1), (x2,y2), ............, (xi,yi) adalah:
X = ( Wi . Xi)/(Wi)
Y = ( Wi . Yi)/(Wi)


Letak/Posisi Titik Berat
1. Terletak pada perpotongan diagonal ruang untuk benda homogen berbentuk teratur.
2. Terletak pada perpotongan kedua garis vertikal untuk benda sembarang.
3. Bisa terletak di dalam atau diluar bendanya tergantung pada homogenitas dan bentuknya.
Titik Berat Beberapa Benda
Nama Letak Titik Berat Keterangan
Garis lurus yo = 1/2 AB z = di tengah-tengah AB
Busur lingkaran yo = AB/AB . R AB = tali busur
AB = busur AB
R = jari-jari lingkaran
Busur setengah lingkaran yo = 2.R/p R = jari-jari lingkaran
Juring lingkaran yo = AB/AB.2/3.R AB = tali busur
AB = busur AB
R = jari-jari lingkaran
Setengah lingkaran yo = 4.R/3  R = jari-jari lingkaran
Selimut setengah bola yo = 1/2 R R = jari-jari lingkaran
Selimut limas yo = 1/3 t t = tinggi limas
Selimut kerucut yo = 1/3 t t = tinggi kerucut
Setengah bola yo = 3/8 R R = jari-jari bola
Limas yo = 1/4 t t = tinggi limas
Kerucut yo = 1/4 t t = tinggi kerucut
Dalam menyelesaikan persoalan titik berat benda, terlebih dahulu bendanya dibagi-bagi sesuai dengan bentuk benda khusus yang sudah diketahui letak titik beratnya, kemudian baru diselesaikan dengan rumusan yang ada.
Contoh:
Dua silinder homogen disusun seporos dengan panjang dan massanya masing-masing: l1 = 5 cm ; m1 = 6 kg ; l2 = 10 cm ; m2 = 4 kg. Tentukan letak titik berat sistem silinder tersebut !
Jawab:
Kita ambil ujung kiri sebagai acuan, maka:
x1 = 0.5 . l1 = 2.5 cm
x2 = l2 + 0.5 . l1 = 5 + 5 = 10 cm
X = ( mi . xi)/(mi)
X = (m1.x1) + (m1.x1)/(m1 + m2)
X = (6 . 2.5 + 4 . 10)/(6 + 4)
X = (15 + 40)/(10) = 5.5 cm
Jadi titik beratnya terletak 5.5 cm di kanan ujung m1
http://free.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Fisika/0272%20Fis-1-3a.htm
Titik Berat
Salah satu gaya yang bekerja pada setiap benda yang terletak di permukaan bumi adalah gaya gravitasi. Gaya gravitasi yang bekerja pada suatu benda di sebut gaya berat (w). Untuk benda yang mempunyai ukuran (bukan titik. kalau titik tidak punya ukuran), gaya gravitasi yang bekerja pada benda tersebut sebenarnya bukan cuma satu. Sebagaimana yang telah gurumuda jelaskan di atas, setiap benda bisa kita anggap terdiri dari banyak partikel alias banyak titik. Gaya gravitasi sebenarnya bekerja pada tiap-tiap partikel yang menyusun benda itu. Perhatikan gambar di bawah.

Benda ini kita anggap terdiri dari partikel-partikel. Partikel2 itu diwakili oleh titik hitam. Tanda panah yang berwarna biru menunjukkan arah gaya gravitasi yang bekerja pada tiap2 partikel. Seandainya benda kita bagi menjadi potongan2 yang sangat kecil, maka satu potongan kecil itu = satu partikel. Jumlah partikel sangat banyak dan masing-masing partikel itu juga punya massa. Secara matematis bisa ditulis sebagai berikut :
m1 = partikel 1, m2 = partikel 2, m3 = partikel 3, m4 = partikel 4, m5 = partikel 5, ……, mn = partikel terakhir. Jumlah partikel sangat banyak, lagian kita juga tidak tahu secara pasti ada berapa jumlah partikel. Untuk mempermudah, maka kita cukup menulis titik2 (….) dan n. Simbol n melambangkan partikel yang terakhir.
Gaya gravitasi bekerja pada masing-masing partikel itu. Secara matematis bisa kita tulis sebagai berikut :
Gaya gravitasi yang bekerja pada partikel = gaya berat partikel
m1g = w1 = gaya gravitasi yang bekerja pada partikel 1
m2g = w2 = gaya gravitasi yang bekerja pada partikel 2
m3g = w3 = gaya gravitasi yang bekerja pada partikel 3
m4g = w4 = gaya gravitasi yang bekerja pada partikel 4
m5g = w5 = gaya gravitasi yang bekerja pada partikel 5 Dan seterusnya……
Mng = wn = gaya gravitasi yang bekerja pada partikel terakhir
Apabila benda berada pada tempat di mana nilai percepatan gravitasi (g) sama, maka gaya berat untuk setiap partikel bernilai sama. Arah gaya berat setiap partikel juga sejajar menuju ke permukaan bumi. Untuk mudahnya bandingkan dengan gambar di atas. Untuk kasus seperti ini, kita bisa menggantikan gaya berat pada masing-masing partikel dengan sebuah gaya berat tunggal (w = mg) yang bekerja pada titik di mana pusat massa benda berada. Jadi gaya berat ini mewakili semua gaya berat partikel. Titik di mana gaya berat bekerja (dalam hal ini pusat massa benda), di sebut titik berat. Nama lain dari titik berat adalah pusat gravitasi.

w = gaya berat = gaya gravitasi yang bekerja pada benda
m = massa benda
g = percepatan gravitasi
Bentuk benda simetris, sehingga pusat massa dengan mudah ditentukan. Pusat massa untuk benda di atas tepat berada di tengah-tengah. Jika bentuk benda tidak simetris atau tidak beraturan, maka pusat massa benda bisa ditentukan menggunakan persamaan (persamaan untuk menentukan pusat massa benda ada di pokok bahasan pusat massa).
Jika benda berada pada tempat yang memiliki nilai percepatan gravitasi (g) yang sama, maka gaya gravitasi bisa dianggap bekerja pada pusat massa benda itu. Untuk kasus seperti ini, titik berat benda berada pada pusat massa benda.
Perlu diketahui bahwa penentuan titik berat benda juga perlu memperhatikan syarat-syarat keseimbangan. Untuk kasus di atas, titik berat benda harus terletak pada pusat massa benda, agar syarat 1 terpenuhi
Syarat 2 mengatakan bahwa sebuah benda berada dalam keseimbangan statis jika tumlah semua torsi yang bekerja pada benda = 0. Ketika titik berat berada pada pusat massa, lengan gaya = 0. Karena lengan gaya nol, maka tidak ada torsi yang dihasilkan oleh gaya berat (Torsi = gaya x lengan gaya = gaya berat x 0 = 0 ). Syarat 2 terpenuhi.
Titik berat benda untuk tempat yang memiliki percepatan gravitasi (g) yang berbeda
Pada pembahasan sebelumnya, kita menganggap titik berat benda terletak pada pusat massa benda tersebut. Hal ini hanya berlaku jika benda berada di tempat yang memiliki percepatan gravitasi (g) yang sama. Benda yang berukuran kecil bisa memenuhi kondisi ini, tetapi benda yang berukuran besar tidak. Demikian juga benda yang diletakkan miring (lihat contoh di bawah).
Bagaimanapun, percepatan gravitasi (g) ditentukan oleh jarak dari pusat bumi. Bagian benda yang lebih dekat dengan permukaan tanah (maksudnya lebih dekat dengan pusat bumi), memiliki g yang lebih besar dibandingkan dengan benda yang jaraknya lebih jauh dari pusat bumi. Untuk memahami hal ini, amati ilustrasi di bawah.

Sebuah balok kayu diletakkan miring. Kita bisa menganggap balok kayu tersusun dari potongan-potongan yang sangat kecil. Potongan2 balok yang sangat kecil ini bisa disebut sebagai partikel alias titik. Massa setiap partikel penyusun balok sama. Bentuk balok simetris sehingga kita bisa menentukan pusat massanya dengan mudah. Pusat massa terletak di tengah-tengah balok (lihat gambar di atas).
Karena semakin dekat dengan pusat bumi, semakin besar percepatan gravitasi, maka partikel penyusun balok yang berada lebih dekat dengan permukaan tanah memiliki g yang lebih besar. Sebaliknya, partikel yang berada lebih jauh dari permukaan tanah memiliki g lebih kecil. Pada gambar di atas, partikel 1 yang bermassa m1 memiliki g lebih besar, sedangkan partikel terakhir yang bermassa mn memiliki g yang lebih kecil. Huruf n merupakan simbol partikel terakhir. Jumlah partikel sangat banyak dan kita juga tidak tahu secara pasti berapa jumlah partikel, sehingga cukup disimbolkan dengan huruf n. Lebih praktik.
Karena partikel yang bermassa m1 memiliki g lebih besar, maka gaya berat yang bekerja padanya lebih besar dibandingkan dengan partikel terakhir. Jika kita amati bagian balok, dari m1, hingga mn, tampak bahwa semakin ke atas, jarak bagian balok2 itu dari permukaan tanah semakin jauh. Tentu saja hal ini mempengaruhi nilai g pada masing-masing partikel penyusun balok tersebut. karena massa partikel sama, maka yang menentukan besar gaya berat adalah percepatan gravitasi (g). semakin ke atas, gaya berat (w) setiap partikel semakin kecil.

C. ALAT DAN BAHAN
1. Persegi dari kardus
2. Segitiga samakaki dari kardus
3. Lingkaran dari kardus
4. Setengah lingkaran dari kardus
5. Beban
6. Benang

D. LANGKAH PERCOBAAN
1. Menyiapkan empat bentuk benda yang terbuat dari kardus
2. Membuat dua buah lubang kecil di benda tersebut
3. Memasukkan benang ke dalam salah satu lubang dan membuat simpul
4. Mengangkat salah satu ujung benang dan memberikan beban secukupnya pada ujung benang yang lain
5. Membuat garis pada kardus tersebut tepat pada garis benang
6. Mengulangi langkah 3 – 5 untuk lubang kardus yang lain
7. Menentukan titik potong kedua garis tersebut (koordinatnya)
8. Mengulangi untuk bentuk benda yang lain hingga 4x
9. Memasukkan hasil pengamatan dalam table pengamatan

E. TABEL PENGAMATAN
No Bentuk benda Koordinat titik berat hasil pengamatan Koordinat titik berat hasil perhitungan
1 Persegi 7.3 cm 7.6 cm
2 Segitiga samakaki 5.1 cm 5.08 cm
3 Lingkaran R= 9 cm 9 cm 9 cm
4 Setengah lingkaran R=7.5 cm 3.5 cm 3.18 cm

F. PEMBAHASAN
a. Pertanyaan
1. Ukurlah koordinat titik berat benda !
2. Hitunglah koordinat titik berat benda tersebut dengan menggunakan rumus!
3. Bandingkan koordinat hasil perhitungan dengan hasil pengukuran
4. Apakah titik berat hasil perhitungan dengan hasil pengukuran hasilnya sama / tidak? Berikan penjelasan!
5. Mengapa para pemain sirkus sering membujurkan / merenggangkan lengan tangannya? Bagaimana tinjauannya dengan titik berat
6. Berikan contoh (minimal 2) penggunaan titik berat dalam kehidupan sehari-hari!
b. Jawaban
1) Mengukur koordinat titik berat banda:
a) Persegi (15.2 cm x 15.2 cm)
yp = 7.3 cm




b) Segitiga samakaki

yp = 5.1 cm






c) Lingkaran

yp = 9 cm
D = 18 cm



d) Setengah lingkaran
yp = 3.5 cm
R = 7.5 cm




2) Menghitung koordinat titik berat benda dengan menggunakan rumus:

a) Persegi (15.2 cm x 15.2 cm)
yp = ½ ℓ
= ½ (15.2)
= 7.6 cm


b) Segitiga samakaki

t =
=
=
= 15.25 cm

yp = 1/3 t
= 1/3 (15.25)
= 5.08 cm

c) Lingkaran
R = 9 cm
yp = R
yp = 9 cm






d) Setengah lingkaran
R = 7.5 cm
yp = 4R/3π
= 4 . (7.5) / 3 . 3.14
= 3.18 cm


3) Berdasarkan hasil percobaan diperoleh:
• Persegi
Koordinat hasil perhitungan 7.6 cm
Koordinat hasil pengukuran 7.3 cm
• Segitiga samakaki
Koordinat hasil perhitungan 5.08 cm
Koordinat hasil pengukuran 5.1 cm
• Lingkaran
Koordianat hasil perhitungan 9 cm
Koordinat hasil pengukuran 9cm
• Setengah lingkaran
Koordinat hasil perhitungan 3.18 cm
Koordinat hasil pengukuran 3.15 cm
4) Titik berat hasil perhitungan dengan hasil pengukuran hasilnya berbeda hal itu disebabkan karena benda tersebut memiliki rongga.
5) Para pemain sirkus sering membujurkan/merenggangkan lengan tangannya untuk menjaga keseimbangan. Benda yang ditumpu pada titik beratnya akan berada dalam keseimbangan.
6) Contoh penggunaan titik berat dalam kehidupan sehari-hari adalah jungkat-jungkit, pemikul barang, timbangan dan lain-lain.


G. KESIMPULAN
Setelah dilakukan percobaan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. suatu benda memiliki titik berat pada titik keseimbangannya.
2. Titik berat suatu benda yaitu titik tangkap resultan semua gaya yang bekerja pada tiap bagian benda.
3. Letak titik berat suatu benda yang bentuknya teratur homogen berada di tengah-tengahnya.

1 komentar:

  1. Musa,,,laporan Eksperimen I masih punya g? Punyaku hilang semua....

    BalasHapus