Pages

Sabtu, 23 Juni 2012

FILSAFAT ILMU


Pengertian Filsafat Ketika kita mendengar kata Filsafat, maka kita akan berpikir tentang sebuah pemikiran yang mendalam dalam mencari sesuatu hakikat. Berfilsafat dapat diartikan sebagai berfikir. Ciri berfikir filsafat adalah: 1. Radikal : berfikir radikal artinya berfikir sampai keakar permasalahannya. 2. Sistematik, berfikir yang logis, sesuai aturan, langkah demi langkah, berurutan, penuh kesadaran, dan penuh tanggungjawab. 3. Universal, berfikir secara menyeluruh tidak terbatas pada bagian tertentu tetapi mencakup seleuruh aspek. 4. Spekulatif, berfikir spekulatif terhadap kebenaran yang perlu pengujian untuk memberikan bukti kebenaranyang difikirkannya. Ruang lingkup kajian Filasafat ada tiga bentuk: 1. Dialektika adalah persoalan ide-ide atau pengertian-pengertian umum. 2. Fisika adalah persoalan dunia materi. 3. Etika adalah persoalan baik dan buruk. Dalam kajiannya, ketiga macam bentuk kajian Filsafat secara umum sangat luas. Dapat dilihat dari pengertian Dialektika dalam kajian filsafat berupa pengertian-pengertian persoalan yang ada yang melahirkan ide-ide dalam mendefinisikan persoalan. Fisika dalam kajian Filsafatnya dapat diartikan sebagai pendalaman dan pemahaman sebuah persoalan dari segi benda atau materi dunaiwi yang saling keterkaitan dan berguan bagi kehidupan manusia. Etika dalam kajian Filsafatnya dapat diberi arti sebagai tata karma dan sopan santun yang lahir dari pemahaman perbuatan yang baik dan yang buruk dan sebuah tata aturan yang berlaku dalam masyarakat yang menjadi sebuah kebudayaan yang wajib untuk taat dipatuhi. Mengenai filsafat itu sendiri mula-mula ada dua cabang filsafat, yaitu (1) filsafat alami (natural philosophy) dan (2) filsafat moral (moral philosophy). Filsafat alami berkembang menjadi ilmu-ilmu alam, sedangkan filsafat moral berkembang menjadi ilmu-ilmu sosial. Dari keterangan paragraf terdahulu jelas kiranya bahwa adanya ilmu didahului oleh adanya filsafat. Pertumbuhan dan perkembangan ilmu senantiasa dirintis oleh filsafat. Oleh karena itu, untuk dapat memahami ilmu terlebih dahulu perlu dipahami filsafat. Filsafat menjadi pionir yang mencarikan obyek kepada ilmu dan memberikan pedoman kepadanya. Filsafat bersifat menyeluruh, mendasar, dan spekulatif. Dengan kata lain cakupan filsafat hanyalah mengenai hal-hal yang bersifat umum. Hal-hal yang bersifat khusus menjadi kajian ilmu. Jadi cakupan ilmu memang lebih sempit dari pada cakupan filsafat. Meskipun cakupan ilmu lebih sempit, kajian ilmu adalah lebih mendalam dan lebih tuntas. Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Sesungguhnya isi alam yang dapat diamati hanya sebagian kecil saja, diibaratkan mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan laut saja. Semantara filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es situ untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis. Pengertian Filsafat Ilmu. Diatas telah dijabarkan tentang pengertian Filsafat yang mengandung arti cinta kebijaksanaan atau kebenaran, sedangkan orang yang menjalani proses berFilsafat, atau orang yang berfilsafat disebut sebagai Filosof. Lalu dalam pembahasan ini kita melihat kaitan antara kata Filsafat dan kata Ilmu, serta kaitannya antara penggabungan dua kata tersebut. Filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti : Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis). Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empriris. Ilmu mengalami perkembangan, yaitu perkembangan tahap awal dan tahap akhir. Pada perkembangan tahap awal ilmu masih menggunakan norma filsafat sebagai dasarnya, sedangkan metodenya adalah metode normatif dan deduktif. Pada tahap akhir ilmu menggunakan temuan-temuan sebagai dasarnya dan menyatakan diri sebagai sesuatu yang otonom (mandiri) yang terlepas dari filsafat, adapun metodenya adalah deduktif dan induktif. Telaah ilmu dari segi filosofis adalah telaah yang berusaha menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Telaah tersebut dinamakan filsafat ilmu. Pertanyaan yang diusahakan untuk dijawab oleh filsafat ilmu adalah yang berkenaan dengan : a. Obyek telaah suatu ilmu. b. Wujud hakiki obyek tersebut. c. Hubungan antara obyek dan manusia yang membuah ilmu dan pengetahuan. d. Cara memperoleh dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang benar. e. Penggunaan ilmu dan pengetahuan. Hakekat ilmu atau landasan-landasan ilmu yang menjadi garapan filsafat ilmu, akan dapat dipahami dengan tidak membahas tiga aspek yang ada dalam ilmu/sains, seperti aspek ontologi (apa), epistemologi (bagaimana), dan aksiologi (untuk apa). Aspel ontologi mengenai apa yang dikaji ilmu atau tentang ada sebagai obyek sains, aspek epistemologi mengenai bagaimana proses mendapatkan ilmu, dan aspek aksiologi mengenai untuk apa ilmu itu digunakan. Namun masih terbuka lebar dan masih banyak kajian permasalahan yang berkait dan yang tidak dengan ketiga aspek tersebut dalam lingkup ilmu, yang akan memperjelas penemuan kebenaran terdalam dari ilmu yang selalu didambakan manusia pencari ilmu. Ilmu yang merupakan hasil usaha manusia, kini berkembang pesat dan menjadi salah satu senjata manusia guna memerangi/mengatasi permasalahan-permasalahan manusia yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan manusia penuh dengan kejadian dan lika-liku yang oleh paham fatalisme kejadian itu sebagai nasib yang telah ditentukan lebih dahulu, menjadi fenomena yang menarik untuk ditelaah lebih dalam; selain alam yang mengherankan. Langit yang tiada satupun pilar penyangga, disiang hari nampak matahari yang bercahaya menyinari bumi, kadang megapun menghias manis. Dimalam hari bulan dan bintang menghias langit dan menerangi bumi. Benda-benda langit itu rapi bergerak dijalannya, tak ada yang bertabrakkan. Dan bila kita melihat bumi, maka tampak gunung yang menjulang tinggi di tumbuhi pohon, dihiasi sungai dengan penuh bebatuan yang airnya bermuara di lautan. Laut yang penuh gelombang berarak dan badai, binatang laut, dan ikan-ikan yang dicari nelayan dengan kapalnya. Selanjutnya ikan-ikan itu diperjual belikan diantara manusia. Manusia yang memiliki akal, berpikir dan bertingkah laku. Manusia yang hidup dalam suatu dunia yang dipenuhi dengan barang-barang. Manusia yang bisa mencipta barang dan menghilangkannya. Manusia yang membutuhkan air, angin, dan panas. Dan manusia yang terdiri atas badan dan jiwa. Semua itu merupakan bahan kajian ilmu. Pendeknya alam dan manusia dengan segala unsurnya sepanjang pengalaman dan kemampuan indera manusia menjadi obyek kajian ilmu. Bingkai penjelajahg ilmu menjadi jelas tiada lain alam dan manusia. Alam yang tertib, rapi dan seimbang. Alam yang penuh energi dan materi serta misteri. Penutup Filsafat ilmu bukanlah sekedar metodologi ataupun tata cara penulisan karya ilmiah. Filsafat ilmu merupakan refleksi secara filsafati akan hakikat ilmu yang tidak akan mengenal titik henti dalam menuju sasaran yang akan dicapai., yaitu kebenaran dan kenyataan. Memahami filsafat ilmu berarti memahami seluk beluk ilmu pengetahuan sehingga segi-segi dan sendi-sendinya yang paling mendasar, untuk dipahami pula perspektif ilmu, kemungkinan pengembangannya, keterjalinannya antar [cabang] ilmu yang satu dengan yang lain. Filsafat ilmu perlu disebarluaskan untuk dikuasai oleh para tenaga pengajar dan peneliti, agar memungkinkan mereka untuk mensublimasikan disiplin ilmu yang ditekuninya ke dataran filsafati sehinga sanggup memikirkan spekulasi-spekulasi yang terdalam untuk menciptakan paradigma-paradigma baru yang relevan dengan budaya masyarakat bangsanya sendiri dikutip dari Dwi Atmaja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar